Minggu, 27 Juni 2010

DARI CHINTYA KE BUDIDAYA JAMUR KEMUDIAN CHINTYA

Sabtu, 26 juni 2010, pukul 19.00
Akhirnya bisa kembali menulis catatan perjalanan hidupku !! hatiku mulai kembali tenang aku pun bisa meluapkan semua rasa yang ada dalam diri ku…
Dimulai dari kemaren sore ketika Herlan datang ke kontrakan, dari sana berniat untuk ketemu dengan Asep Sujana (Asuj) kakak kelas ku waktu di Pondok Pesantren dulu, aku ingin sekali bernostalgia, ngobrol-ngobrol masalah bisnis dengan Asep, dan ternyata dia sudah berkembang pesat, dulu waktu masih ngobrol-ngobrol masalah bisnis, ia baru punya rencana ingin membudidayakan ikan lele, ia pun mencari investor karena ia masih belum mempunyai dana yang cukup, ketika masa pencarian investor tersebut ia bercerita “alangkah susahnya mencari investor untuk ikan lele”, akan tetapi sekarang setelah ia berhasil dalam budidaya ikan lele, banyak orang-orang dari alumni Pondok Pesantren kami yang ingin bekerja sama dengan Asep, akan tetapi Asep pun berpikir 2 kali ketika para calon investor ingin menanamkan modal dalam usaha Asep, ia pun menolaknya secara halus, karena tidak sesuai dengan etika bisnis. Bisnis yang baru maju dan belum menjadi perusahaan yang besar, jadi tidak akan efektif bila terlalu banyak orang yang menanamkan modal (yang ditanamkannya sedikit).
Dari obrolan itu saya berpikir tentang masalah obrolan dulu dengan Afer (Arif Refer, sedikit bicara masa lampau) yang merupakan salah satu angkatan pertama dari pundok kami, aku teringat ketika ia bercerita tentang masalah ia waktu mengikuti pelatihan budidaya jamur, sangat menarik sekali berbicara denganya yang membagi sedikit ilmu dan pengalamanya pada ku, dari mulai masalah peluang bisnis di tasikmalaya, dan kebetulan jamur pun belum dikenal banyak orang di kota ini. Harganya yang tinggi dan bisa dipanen setiap hari sangat menggoda hasratku untuk berbisnis jamur. Akan tetapi banyak tantangan yang harus dihadapi dari bisnis jamur ini, dari mulai cara penanaman, mengatur suhu dan membeli peralatan yang lumayan harganya serta sangat lah tidak mudah untuk mengembangkan jamur, hal ini merupakan tantangan yang besar dan merupakan haling rintang yang tidak dapat kulalui seorang diri, selain dari itu aku tidak menyukai jamur dan aku pun sama sekali tidak mengerti tentang jamur (poek).
Kebetulan juga dari percakapan ku dengan Asuj (Asep Sujana), dia juga menyinggung masalah pembudidayaan jamur, yang katanya membutuhkan dana sekitar 10 juta rupiah, kebetulan pemikiran ku sama dengan apa yang ia pikirkan. Ketika ku Tanya dari mana ia punya ide membudidayakan jamur, ia menjawab dari babehnya, babehnya(ayahnya) mempunyai seorang pakar (ahli) masalah pembudidayaan jamur, kebetulan orang itu juga seorang pembudidaya jamur yang sukses di daerah Karawang. Ini merupakan awal dari perjalanan hidup tingkat DUA untuku. Memulai perencanaan dari 3orang yang akan merintis usaha tersebut yaitu Herlan, Asep Sujana dan diriku sendiri. Muhammad Willy Zulkarnaen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar